Mahasiswa STKIP SERA Lahat Bergejolak
Berita Lahat.
Selasa, 17 November 2008, Walebi bersama teman-temannya berniat menuju ke kampus STKIP Sera ketika 20 orang lebih mendatanginya. Perang mulut sempat terjadi, dan diakhiri dengan pemukulan Walebi oleh dua orang dari rombongan. Peristiwa ini terjadi pukul 14.30 WIB di simpang Telkom Lahat.
Seorang saksi yang masih teman Walebi, melihat peristiwa tersebut mengakui mengenali salah satu pelaku.
Alhasil, wajah Walebi lebam dan luka di hidung, pipi dan kening. Merasa teraniaya, Walebi melaporkan peristiwa pengeroyokannya itu ke Polres Lahat.
Sebelum pengeroyokan ini terjadi, Walebi bersama seluruh mahasiswa STKIP SERA mengadakan rapat besar guna menggugat pihak yayasan agar membenahi kualitas pendidikan di STKIP SERA baik itu sarana fisik, administrasi terlebih lagi sistem pengajaran.
Musyawarah yang berlangsung di pendopoan gedung pramuka Ribang Kemambang tersebut, dihadiri oleh 500 lebih mahasiswa/i, 14 November 2008, musyawarah itu berlangsung selayaknya demonstrasi.
Musyawarah tersebut guna menyatukan suara mahasiswa untuk menentang system pengajaran dan admisnistrasi di STKIP Sera.
Mahasiswa menuntut agar kebobrokan STKIP Sera segera dibenahi, terutama fasilitas yang minim, seperti belum adanya gedung sendiri yang membuat STKIP Sera ini menumpang pada SD Kartika Candra Kirana dan salah satu jurusan; Fisika, belum diperpanjang izin operasinya sejak tahun 2004. Hal ini membuat mahasiswa resah dengan status kesarjanaannya nanti.
“Pernah ada mahasiswa STKIP Sera yang tidak diakui izazahnya, dan pihak yayasan masih menerima mahasiswa sampai tahun 2008 ini,” jelas Walebi di sela-sela musyawarah.
Selain itu juga, mahasiswa mengeluhkan mahalnya biaya pendidikan di STKIP Sera Kabupaten Lahat ini, biaya semester sebesar Rp. 1,3 juta, sedangkan menurut beberapa mahasiswa, program-program pendidikan tersebut tidak berjalan dengan apa yang diharapkan mahasiswa seperti PPL dan KKN.
“Seharusnya PPL diadakan diluar STKIP tapi kami hanya berada di ruang STKIP saja,” kata Putra, pernyataan itu juga dibenarkan oleh beberapa mahasiswa yang lain.
semenjak masa berdirinya, STKIP Sera telah meluluskan sebanyak tiga angkatan, setiap angkatan berkisar 30 sampai 50 wisudawan dan wisudawati.
Seluruh mahasiswa yang hadir membulatkan tekadnya meminta kepada pihak yayasan agar tuntutannya dipenuhi, untuk menyatukan persepsi seluruh mahasiwa membacakan sebuah deklarasi.
“Sebagai bentuk perlawanan mahasiswa, sebelum tuntutan kami dipenuhi, kami semua akan mogok belajar, mulai besok sampai waktu yang tidak ditentukan,” kata Yudi
Forum Mahasiswa Bersatu (FMB) dalam musyawarah tersebut membagikan selebaran yang berisikan 12 tuntutan
12 TuntutanMahasiswa STKIP SERA Lahat
1. Biaya administrasi KKN, (P4M), skripsi dan ujian serta wisuda yang dibebankan kepada mahasiswa terlampau tinggi, dan pelaksanaan wisuda sering ditunda.
Contohnya a. biaya P4M Tahun akademik 2007/2008 rp. 1.975.000 /mahasiswa
-biaya Skripsi 20062007 Rp. 1.500.000
biaya skripsi 2007 2008 Rp. 1.50.000
biaya wisuda 2007 2008 Rp. 3.800.000
penjelasan : penggunaan dana tidak jelas dan setipa tahun biaya mengalami kenaikan
2. Penipuan public di situs resmi www.stkipseralahat.ac.id mengenai sarana dan prasarana
3. Fasilitas yangtidak memadai dan tidak sesuai dengan biaya per semester, meliputi:
a. Tidak direalisasikannya oleh yayasan untuk membangun sarana gedung perkuliahan seperti tertera di www. Yang merupakan suatu kebohongan yang pada kenyataannya dapat dilihat pada lampiran
b. Kurangnya ruang kelas mengakibatkan seringnya mahasiswa tidak belajar (potre belajar di kolom terlamp[ir
c. Tidak adanya sarana pendukung seperti laboratorium, perpustakaan seperti yang tertera di www, tidak ada sama sekali, apalagi labpratorium computer, laboratorium IPA, dll. Fasilitas yang mereka sediakan hanya gedung perluliahan yang menumpang
d. Kampus menunpang di gedung SD Kartika II lahat milik yayasan kartika jaya dibawah PD II Sriwijaya, beralamat di Jalan Serma Jamis komplek SD Persit kartika jaya cabang lahat (dekat Pt. Telkom Lahat Benteng)
4. Mahasiswa tahun akadmik 2007/2008 belum meiliki kartu tanda mahasiswa (KTM) sampai sekarang
5. Izin operasional khusunya jurusan fisika tidak diperpanjang sejak tahun 2004 sampai dengan sekarang, namun pihak yayasan masih menerima mahasiswa baru untuk jurusan tersebut.
6. Tidak adanya dana kemahasiswaan, semua kegiatan tidak pernah mendapatkan dukungan dari pihak yayasan baik materi maupun moril.
7. Sistem manajemen pegelolaannya adalah manjemen keluarga. Staf pengelola diangkat dari mahasiswa yang masih aktif kuliah yang aggita keluarganya sendiri.
8. Mahasiswa diwajibkan membeli fotokopi buku yang nilai nya Rp. 200.000 dijual ke mahasiswa Rp. 75.000 oleh ketua I stkip sra lahat
9. PPL II mahsiswa tahun akademik 2005/2006 yang semestinya dilaksanakan diluar kampus (sekolah-sekolah) hanya dilaksanakan dilingkup kampus dan mengalami pengunduran satu semester oleh yayasan.
10. Terpisahnya lokasi secretariat admisnistrasi dengan kampus (lokasi perkuliahan) sehingga menyulitkan proses administrasi mahasiswa (sekeretariat di rumah ketua STKIP SERA lahat beralamat di Jl. H. Djamaan ST Sinaro terminal baru Muara Siban Lahat)
11. Tidak adanya pantauan langsung dariketua yaysan STKIP SERA terhdsap kegiatan belajar mengajar
12. Yayasan tidak berpihak kepada mahasiswa
(Pinasti S Zuhri)
Jumat, 12 Desember 2008
Kamis, 11 Desember 2008
Festival Seni Rakyat Perangai
Berita Lahat.
Dalam melestarikan seni budaya daerah menjadi sangat sulit dilakukan apabila tidak ada keperdulian dari masyarakatnya atau dari seseorang yang juga terpanggil untuk mengabdikan dirinya terhadap seni budaya tersebut. Seperti diketahui bahwa seni budaya daerah merupakan warisan nenek moyang yang sangat berharga, tetapi tidak semua orang dapat menerima dan dapat mewariskannya kembali ke masyarakat.
Masjayadi, S.Pd, (45) mengungkapkan kepada beritalahat beberapa hari lalu di kediaman salah satu tokoh gitar tunggal (berejung) Edi Hamdani (38) dan adiknya Eep (26) tokoh muda yang memiliki semangat berkesenian di Lubuk Betung 1. Masjayadi mengatakan keinginannya untuk menggali kembali dan menghidupkan lagi seni budaya yang berada di daerah Kecamatan Merapi Selatan, atau yang sering disebut Kecamatan Perangai. Masjayadi, sebetulnya baru beberapa hari mutasi dari SMA Negeri 1 Merapi Timur dan kini menjabat sebagai Kepala Tata Usaha Cabdin Merapi Selatan. Namun dirinya tertarik dengan keindahan alam Kecamatan Perangai ini, dan dirinya memahami akan asset budayanya yang cukup melimpah dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kabupaten Lahat.
“Sayang pemerintah Lahat belum maksimal memberdayakan seni budaya dan daerah pariwisatanya. Perangai punya Gua Kelambit, Pelatihan Gajah, Air Terjun, Kiling Api, Batu Tiga Tungku, bukit-bukit yang memiliki nilai sejarah, banyak cerita mitos, tentang puyang dan masih banyak lagi,” ujar Masjayadi.
Sementara, Edi Hamdani yang cukup
Lain hal dengan Eep adik dari Edi, menurutnya, “Sebetulnya banyak yang mau belajar seni daerah seperti nari Erai-erai, Gending Sriwijaya, dan ngarak Penganten, tapi dak katik yang ngarahkannye. Jadi kami yang mude ni nunggu saje, kalu ade yang menggerakannye pasti banyak yang melok melestarikan kesenian daerah ini,” tuturnya.
Dari pembicaraan yang cukup panjang lebar ini, Masjayadi, S.Pd mencetuskan untuk mengadakan Pesta Rakyat Perangai, yang menghadirkan festival seni Perangai, lomba desa mengenai hasil seni kerajinan dan seni tradisi lainnya.
“Mengenai biayanya dimusyawarahkan dulu dengan Camat atau Bupati baru, atau dengan perusahaan seperti PT. Batu Bara Lahat, PT PAMA atau dengan PT BA, supaya Pesta Rakyat Perangai dapat terlaksana,” tandasnya. (Jajang R Kawentar)
Beritalahat.
Satriyani, gadis belia yang baru beranjak dewasa, meninggalkan rumahnya di Merapi Barat, pukul 10 pagi, 13 November 2008 yang lalu. Sebaris sebab kepergiannya tercatat di sebuah buku harian yang ia tinggalkan sebagai kenangan.
Satriyani dilahirkan 16 tahun yang lalu, ibunya bernama Pariana (43) dan Ayahnya Dani Kusno (47). Ia anak ke empat dari lima bersaudara. Kedua orang tuanya bekerja sebagai petani karet. Sehari-harinya Satriyani jarang ke luar rumah, ia pendiam, namun teman-temannya sering datang bertandang ke rumahnya.
Sebelum pergi, Kusno sempat mendengar pembicaraan Satriyani di telepon genggam, saat ia sedang duduk di lantai bawah rumah panggungnya. Ia mendengar anaknya diajak seorang lelaki bertemu di Lahat. Namun Kusno tak begitu menanggapi pembicaraan anaknya. Satriyani mempunyai nenek yang tinggal di Lahat dan kakak perempuan yang bekerja di sana. Satriyani sering mengunjungi nenek dan kakak perempuanya itu. Kusno berfikir, mungkin laki-laki itu adalah teman anaknya di Lahat, Riko dan Nova.
“Mereka kayaknya becewe’an. Mereka ngomong kapan bisa ketemuan. Tapi Satriyani dak pernah cerita kalau die nak ketemu dengan yang namanya Riko atau Nova, sebelum pergi dia ngomong kalau ayuknya yang begawe di Lahat menelponnya, nyuruh ke Lahat. Kami percaye saje, dak curiga ape-ape. Biase die galak pegi sehari, besok paginya ia pulang,” kata Kusno.
Sampai keesokan harinya Satriyani belum berada di rumah. Padahal ia harus mengikuti pelajaran di sekolah, ia masuk siang. Biasanya, sebelum sekolah Satriyani pasti sudah berada di rumah. Kusno lantas menelpon anak perempuannya yang bekerja di Lahat. Satriyani tidak menemui kakak perempuannya.
“Waktu sekolah besoknye, dia belum juga muncul, mangke ditanyekan same kancenye, ditelpon ke ayuknye. Kate ayuknye, Satriyani dak nemui ayuknya.,” Jelas Pariana, sambil memetik sayuran yang baru dibelinya dari warung. Pariana berpesan sebelum Satriyani pergi, ia minta tolong bayarkan tagihan listrik sama kakak perempuannya
“Beberapa hari sebelumnya, Satriyani minta duit untuk bayar SPP sekolahnya, dan sudah dikasihnya. Jadi waktu dia ngomong nak ke Lahat dia cuma bawa duit untuk sekolahnye, HP dan juga Ijazah SD, SMP-nya dan foto-fotonya semua dibawa,” kata dani Kusno dengan raut wajah yang sedih.
“Satriyani anaknya manja, tidak terlalu banyak bicara, kami tidak terlalu banyak bicara, kami tidak pernah marahi dia. Dia juga jarang ke luar rumah, kalu tidak kawan-kawannya yang datang ke rumah,” jelas Pariana.
Kami sudah menghubungi saudara-saudara yang ada di Lahat, pagar Alam, Bengkulu, dan Lubuk Linggau, jawabnnya tidak ada. Bahkan dani kusno telah meminta tolong tetangganya di Lubuk Linggau, Walnasri untuk mengecek rumah Riko, satriyani tidak ada di sana. Walnasri belum bertemu dengan Nova.
“Entah, mesti minta tolong sama siapa lagi, sementara uang kami sudah habis,” kata Kusno, ia menarik nafas panjang, matanya berkaca-kaca.
Di sekolah, Satriyani mempunyai teman dekat, Fiti dan Rahmayana. Mereka satu kelas di SMA Negeri Merapi timur. Di hari pertama kepergian Satriyani Fifi mendapat SMS dari Satriyani, pukul satu saing, Satriyani memberi tahunya lupa membawa rekening listrik.
“Aku tidak tahu jika mulai hari itu Satriyani tak pulang ke rumah,” kata Fiti.
Fiti dan Rahmayana tempat saling berbagi cerita, termasuk tentang sekelumit perasaan terhadapa lawan jenis. Kedua temannya ini sangat prihatin dan cemas ketika mendengar kabar bahwa Satriyani tak kujung pulang ke rumah. Mereka takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, mereka berdua pun berusaha mencari tahu keberadaan temannya ini.
“Satriyani pernah cerita kalau mau ketemuan di Lahat dengan pacarnya yang kenalan di hp itu. Saya menyarankan supaya kenalannya itu di suruh ke rumah saja. Tapi Satriyani berkeras menemuinya di Lahat,” kata Fiti.
“Riko itu kenalannya di HP, orang Linggau, alamatnya ada di buku diarynya,” sambung Rahmayana.
“Malam kedua setelah kepergian Satriyani, kami coba lagi menghubunginya, hp nya masih aktif. Tapi setelah itu Hp dimatikan sampai sekarang.”